Posted in Angst, friendship, PG 17, Romance, Sad

Innocent Lust Chapter 8

 


Author : lightmover0488

Cast : Luhan / Oh Selbi (OC) / Byun Baekhyun

Support cast : Park Chanyeol

Genre : Sad / Angst / PG- 17 /Romance / Friendship

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Hanya fiktif. Dilarang meresapi terlalu dalam. Dan No Copy paste.

Prev 1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7

===


Seorang pembunuh?

 
Yeah, perkataan yang dilayangkan Luhan tidak hanya membuat kaget Selbi yang mendengarnya namun juga untuk dirinya sendiri. Pikiran Luhan pun berkecamuk di tengah – tengah hawa panas yang menyelimuti sekujur tubuhnya, kedua matanya berkunang hebat, dengan indra penciuman yang berubah menjadi tajam dan hanya mampu mencium aroma parfum Selbi yang sangat pekat.

Tangan Luhan bergerak menyusuri pipi Selbi, sedangkan gadis itu, bahkan melewatkan kesempatan bernafasnya karena tatapan mata Luhan yang begitu menyakitinya. Begitu terluka dan sangat rapuh. Otak Selbi masih mencerna perkataan mengerikan Luhan beberapa saat yang lalu. Kenapa Pria itu harus menjadi seorang pembunuh? Apakah itu hanya kiasan semata?

Opp— Luhan-ssi… sepertinya–”

Luhan mendekatkan lagi wajahnya pada Selbi, lalu meraup bibir gadis itu dengan nafsu yang memuncak. Namun saat kedua tangan Selbi berusaha mendorong tubuh Luhan lagi, Pria itu melepaskan pagutannya karena sangat terganggu dengan suara berisik yang menjadi sangat mengusik kedua telinganya yang sangat panas. Dengan menenggak habis botol yang ketiga, Luhan menarik lengan Selbi. Berjalan gontai dengan terhuyung – huyung sambil berkedip – kedip memperjelas penglihatannya. Menyingkirkan beberapa orang yang menghalangi jalannya dengan masih bersusah payah menarik Selbi yang masih berusaha melepaskan cekalannya.

Suara teriakan Selbi pun tidak sedikitpun terdengar telinga Luhan. Awalnya Gadis itu berpikir Luhan akan menuruti perkataannya untuk pergi dari sini tapi setelah beberapa saat kemudian yang ia tau adalah Luhan memasukkannya ke dalam sebuah kamar yang Selbi paham betul sebagai kamar inap untuk pelanggan yang ingin menghabiskan malamnya dengan para Gadis di bar.

Oppa–” Suara Selbi langsung mendominasi saat Luhan sudah menutup pintunya sekaligus dengan mengunci pintu itu. Sambil masih memijiti pergelangan tangannya Selbi memundurkan tubuhnya saat Luhan berjalan terseok – seok ke arahnya dengan sesekali mengedipkan matanya yang remang – remang.

“Jangan memanggilku seperti itu,”

Selbi menelan ludahnya pahit, bukan karena dia selalu lupa memanggil Luhan hanya menggunakan namanya saja tapi karena Pria itu kini berwajah merah padam, dengan kedua matanya yang menatap Selbi tajam. Lalu melepaskan jas beserta dasinya dan membuangnya ke lantai begitu saja. Memepet Selbi sampai gadis itu terduduk di tempat tidur dengan jantung yang mulai menggila karena panik. Luhan masih sibuk melepaskan kancing kemejanya saat Selbi tertunduk mencari – cari ponselnya untuk menghubungi Chanyeol.

Dan sesaat kemudian dia terpikirkan sesuatu, untuk apa dia meminta pertolongan pada Chanyeol disaat dirinya bisa saja menghindari apapun perlakuan Luhan? Lagipula bukankah belum tentu Luhan akan melakukan hal yang tidak – tidak padanya? Bisa saja Pria itu jatuh tidur karena pengaruh alkohol yang sangat kuat tadi.

Beberapa saat kemudian Selbi mendongak kaget dari lamunannya sendiri saat dia merasakan tangan Luhan mengambil ponsel yang tengah ia genggam ke nakas tempat tidur seraya mendorongnya sampai terkunci di bawah tubuh Luhan. Dan tidak mengerti dengan kejadian setelah itu karena terlalu cepat, Selbi merasakan dadanya begitu sesak karena bibir Luhan kini tengah melumat hebat bibirnya. Penuh nafsu dan sangat liar. Walaupun kata Chanyeol, Selbi itu sangat ahli dalam mengimbangi lumatan – lumatan seorang Pria namun tidak dengan Luhan. Selbi mendongak karena kedua tangan Pria itu mencengkram rahangnya dan membuat ciuman mereka semakin menjadi saja. Bibir luhan menyesap kuat permukaan bibir atas serta bawah Selbi dengan cepat, lalu memasukkan lidahnya maksimal dan serta merta membelit lidah Gadis itu. Begitu seterusnya sampai bermenit – menit lamanya. Entah apa yang sedang dirasakan Selbi saat ini namun dia benar – benar kesulitan bernafas, kedua tangannya sampai lelah memukuli dada Luhan namun Pria itu tetap bergeming. Malah semakin liar sampai menggerayangi kedua payudaranya.

Oppa!”

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya bibir Luhan berpindah mencumbu sisi rahang Selbi. Sambil mencengkram kedua tangan gadis itu dengan kuat di samping kepala, “Ada apa denganmu sebenarnya! Oppa— nnghhh–”

Luhan seperti tuli, atau dia mengabaikan segala bentuk perlawanan Selbi? Dipengaruhi alcohol, yang Luhan inginkan hanyalah pelampiasan nafsunya. Hatinya terasa panas, menjalari sampai otaknya dan sepertinya membuat perlakuan Luhan menjadi tidak terkendali lagi. Jauh di dalam hatinya, dia merasakan sebuah lubang besar menganga yang begitu menyakitkan. Ingin sekali membuangnya jauh  jauh. Namun Luhan tidak mengerti bagaimana caranya

“Apakah Kau akan menganggapku Nayeon lagi?” Selbi menyeletukkan tanpa ia sadari, namun itu berhasil membuat pergerakan bibir Luhan terhenti di tulang selangka Selbi, terdiam disana dengan kedua mata yang kosong, “Seperti saat Kau mabuk waktu itu, Kau sudah menganggapku Nayeon, Oppa.. Apakah sekarang Kau menganggapku Dia lagi?”

Hajima,” Luhan berbisik dengan sangat memohon

“Tidak bisakah Kau mengenaliku bahkan saat Kau sedang di alam bawah sadarmu? Aku rasa aku akan berhenti penasaran denganmu, Oppa..” Selbi berhasil melepaskan cekalan tangan Luhan, lalu sudah berniat akan mendorong Pria itu agar menyingkir dari atasnya namun kepala Luhan justru terjatuh di atas dadanya beserta badan Luhan yang semakin menindihnya ke tempat tidur.

Dan suasananya langsung hening seketika, yang Selbi rasakan hanya hembusan nafas hangat Luhan yang tidak teratur berhembus di sekujur lehernya.

“Oppa?”

“….”

“Apakah kau tidur?”

Selbi bertanya dengan menatap langit  langit kamar, kedua tangannya tentu saja terpepet di antara tubuhnya dan Luhan. Tidak bisa bergerak, yang tersisa hanya rasa panas yang tersalur dari tubuh Luhan yang sepertinya telah jatuh tertidur. Selbi akhirnya lega, bahwa Luhan tidak melakukan sesuatu padanya. Sungguh dia sangat takut tadi. Yeah, walapun dia benar  benar menyukai kakak kelasnya itu namun jika tadi Luhan melakukan sesuatu padanya disaat yang Luhan lihat di matanya adalah Nayeon, tentu Selbi tidak akan pernah bisa menikmatinya, ah apa yang Selbi pikirkan sebenarnya.

Huft..

Lalu apa yang terjadi setelah ini? Selbi bertanya dalam hati, kenapa dia selalu disana saat Luhan sedang mabuk? Kenapa dia ada di samping Pria itu disaat yang ingin dilihat Luhan hanya Nayeon?

Kenapa harus selbi?

Disaat dia sangat mengharapkan Luhan melihatnya bukan sebagai Nayeon.

 

+ Innocent Lust 8 +

 

Luhan seperti terguling begitu saja menubruk sesuatu yang sangat keras. Kepalanya berputar hebat dan telinganya seperti berdengung sangat memekakkan. Semua yang dilihatnya gelap. Dengan mengangkat tubuhnya menjadi berlutut di sebuah lantai yang begitu dingin kini Luhan mencari – cari sebuah cahaya. Entah  karena dia ketakutan atau karena suara teriakan yang kini berdengung di gendang telinganya, Luhan mulai berlari dalam kegelapan yang seperti menelannya, Keringat dingin membasahi pelipisnya dan nafasnya tersengal seperti dia berada di dalam ruangan sempit kedap udara. Bibir Luhan terkatup, tidak bisa terbuka seperti beku. Dan disaat hanya perasaan takut yang menguasainya, dia pun melihat setitik cahaya jauh di depan sana. Seperti mengajak Luhan untuk segera menghampirinya.

Dari sekian banyak teriakan tidak jelas yang sejak tadi ia dengarkan, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Tepat di depan cahaya putih yang semakin besar seukuran dirinya, suara itu berubah menjadi jeritan seseorang yang ia kenal. Jeritan itu begitu mengusikknya bahkan menghantuinya selama  setahun terakhir ini.

Luhan ragu kedua kakinya berhenti disana dengan salah satu tangan yang menutupi telinganya. Dia takut akan melihat sekali lagi kenagan buruk itu. Kenangan akan Nayeon yang begitu menyakiti perasaannya.
“OPPA!”
Luhan mendongak menatap kedalam cahaya itu dan tengah meresapi suara Nayeon saat memanggilnya. Kini yang berada di hadapan Luhan adalah sosok Nayeon. Gadis itu terbaring di atas tempat tidur, dengan gaun tidur berwarna putih dan kedua kakinya yang berlumuran darah. Wajah gadis itu pucat pasi, kedua matanya tertutup seperti jiwa yang berada di sana sudah hilang dari raganya.

Melihatnya, kedua lutut Luhan seperti kehilangan kemampuan menyangga tubuhnya. Dia bersimpuh ke lantai yang seperti membeku. Memukul – mukul dadanya yang begitu sangat sesak.

Bulir – bulir air mata pun tak kuasa di bendung oleh kedua pelupuk mata jernih Luhan dan segera menangis sangat kencang di samping tubuh Nayeon yang berbaring, “Nayeon-ah..”
Entah itu suara hatinya atau suaranya sendiri tapi Luhan begitu ingin menyerukan nama itu.

Nama yang amat sangat dia rindukan.. sekaligus juga membuat hatinya seakan tertusuk sesuatu jika menyebut nama itu.

“Oppa, tolong aku..”
“Nayeon-ah!”

Lagi – lagi Luhan mendengar teriakan itu. Tidak bisa berbuat apa – apa, Pria itu hanya berlutut dengan kedua tangannya yang bertumpu pada lantai– menangis dengan pilunya disana. Teringat saat Nayeon meneriakinya dari dalam kamar apartemen bersama dengan Ibunya dan seorang dokter.

Kedua tangan Luhan mengepal kuat, berharap rasa benci terhadap Ibunya bisa ia hilangkan saat itu juga. Sementara suara teriakan Nayeon terus mengisi gendang telinganya. Berjam – jam lamanya Luhan hanya menggedori pintu itu, berharap Ibunya tidak akan melakukan apa – apa terhadap Nayeon dan… Janin yang tengah hidup di dalam rahim Gadis yang amat dicintainya. Namun, setelah waktu yang begitu lama dan sangat menyiksa diri Luhan, pintu itu akhirnya menjeblak terbuka. Bersamaan dengan Ibunya yang keluar dari sana sambil berkata bahwa Luhan harus pulang ke Cina besok. Tapi memang Luhan peduli? bahkan dia sama sekali tidak mendengarkannya dan langsung berlari ke dalam kamar Nayeon dengan perasaan kacau. Masih menggendong tas sekolahnya.
“Nayeon-ah…”
Luhan terisak kencang lagi, meraung – raung mengejakan nama Nayeon seperti orang paling berdosa yang tengah mendapatkan hukumannya. Semuanya sudah terlambat, bahkan Luhan sudah akan berjanji akan membawa Nayeon pergi setelah acara kelulusannya sendiri. Walaupun saat itu Luhan bingung karena Nayeon sudah terlanjur hamil dan Ibunya memaksanya untuk meninggalkan Korea secepatnya. Tapi Luhan sudah menetapkan pilihannya, dan dia sudah berjanji akan melindungi Nayeon dari Ibunya karena beberapa kali beliau sudah memperingatkan Nayeon secara langsung bahwa kandungannya harus ia gugurkan. Dan jangan pernah lagi berhubungan dengan Luhan. Karena itu Luhan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Sampai..

Suatu saat ketika acara kelulusan hanya menunggu 2 hari saja.

Seorang siswa seperti Luhan yang ternyata tidak mempunyai pilihan dan kekuasaan hanya menerima nasib dengan begitu tragis. Di sana Nayeon yang sudah mempercayai semua yang Luhan katakan terbaring seperti sekarat dengan janin yang sudah berada di antara kakinya yang berlumuran darah.

 

+ Innocent Lust 8 +

 

“Oppa?”
Selbi langsung terjaga saat kepala Luhan kembali bergerak di cerukan lehernya. Pria itu melenguh, lalu merintih dan Selbi merasakan nafas pendek – pendek Luhan berhembus jelas di lehernya. Baru menyadari pula, keringat dingin yang tiba – tiba terasa di tangannya yang masih terpepet di depan dadanya dan Luhan yang setengah telanjang.
Oppa, Kau baik – baik saja?”
Mata Luhan terpejam kuat beberapa detik, menghilangkan rasa pusing luar biasa yang menyerang kepalanya. Seperti di lemparkan begitu saja dari mimpi yang masih saja sama seperti yang sebelumnya. Tenaganya hilang entah kemana, sepertinya efek alkoholnya sudah sedikit – demi sedikit memudar. Dan dia sadar kalau seseorang telah menjadi alas tidurnya saat ini.

Sungguh Luhan ingin sekali mengutuk dirinya sendiri, sudah dua kali ini dia mabuk tidak pada tempatnya dan hanya merepotkan semua orang.

Mi–Mianhaeyo..”

Luhan berkata hampir tidak bersuara sama sekali karena tenggorokkannya sangat kering. Lagipula juga dia tidak bisa mengangkat tubuhnya– kepalanya pusing. Dan masih terbayang betapa sesaknya saat melihat Nayeon di dalam mimpinya. Masih sama seperti yang terakhir dia lihat. Tertidur dengan darah yang masih berceceran di tempat tidur.

“Aku akan meminta sesuatu pada Chanyeol untuk mengobati mabukmu, tap– tapi.. bisakah Oppa menyingkir dari atas.. ku?”

“Ahh.. kepalaku..”

“Oke. Tenangkan dulu dirimu, lagipula Kau tidak terlalu… berat..” Bohong Selbi karena dirinya menjadi tidak tega dengan keadaan Luhan yang seperti habis mendapatkan Mimpi buruk. Tentu saja sejak tadi dia kuatir dengan rancuan Pria itu saat tidur. Bahkan membuatnya menjadi sangat gelisah mendengarnya.

Beberapa saat kemudian, setelah Luhan bernafas cukup teratur dan sedikit menghilangkan rasa pusingnya dengan memijiti pelipisnya pelan. Pria itu mengangkat tubuhnya perlahan yang super berat menurutnya. Kemudian menatap Selbi dengan raut wajah tidak enak sekaligus menyesal yang sangat dalam, “Maafkan aku.. apakah aku menyakitimu tadi?”

Selbi menggelengkan kepalanya pelan. Seperti terpesona dengan wajah dan suara Luhan yang begitu luar biasa indah di mata dan telinganya. Jantungnya lagi – lagi berpacu hebat. Sampai membuat perkataannya terjebak di tenggorokan. Dan akhirnya Luhan lah yang berkata lagi, “Harusnya Kau memukulku jika aku melakukan–”

“Kau tidak ingat?”

Luhan terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya.

“Baiklah tidak usah diingat – ingat, toh Oppa tidak melakukan apapun tadi..” Selbi perlahan terduduk saat Luhan berguling ke samping dan berbaring menatap langit – langit dengan mengatur nafasnya. Menetralkan rasa mual dan pusingnya.

“Apakah Kau bermimpi tentang Nayeon? Aku hanya mendengar nama itu tadi..” Kata Selbi akhirnya terduduk di pinggiran ranjang dengan mengambil ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk disana. Baru sadar jika sekarang sudah menunjukan pukul 2 pagi. Sementara Luhan.. Dia masih bergeming mendengar Selbi mengatakan nama itu di depannya. Seakan merasakan dadanya baru saja di tusuk dengan sesuatu yang tajam, “Benarkah? Jangan pedulikan, Nayeon bukan siapa – siapa..” Luhan akhirnya berkata dengan datar, lalu memungut kemejanya dan memakainya lagi, “Ayo aku antarkan Kau pulang,”

 

+ Innocent Lust 8 +

 

“Selbi-ya..”
Selbi yang tengah meringkuk di sebuah sofa dengan ditutupi selimut tebal memutar bola matanya pada Pria jangkung yang baru saja memasuki sebuah ruangan yang sedikit remang. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan Chanyeol yang meninggalkan Selbi selama 2 jam penuh tadi ternyata masih tidak bergeming dari ruangan staff yang cukup berantakan ini. Chanyeol pun duduk di salah satu sofa yang berbeda, memandangi Selbi dengan memiringkan wajahnya seperti berpikir sesuatu. Lalu saat Selbi hanya terdiam menatapnya, Chanyeol pun berjongkok di lantai agar bisa menatap Selbi lebih dekat dan berkata, “Apakah Kau baru saja dicampakkan oleh pria yang semalam?”

Selbi menggelengkan kepalanya, membuat Chanyeol lalu mendengus sambil memanyun – manyunkan bibirnya– kebiasannya saat sedang berpikir keras. Tapi entah karena Pria itu sengaja atau tidak melakukannya, tapi Selbi segera tersenyum dengan apa yang Chanyeol lakukan. Pria itu memang selalu saja penasaran dengan apa yang Selbi alami. Bukan karena Chanyeol menyukai Selbi atau semacamnya, hanya saja Mereka berdua sudah terlalu dekat untuk waktu yang begitu lama.

“Kau akan dimarahi Ibumu jika Kau ketahuan membolos acara penyambutan semalam,”

“Aku tau,”

“Sekarang jam 10..”

“Ah.. aku tau,”

Chanyeol semakin mengerutkan dahinya, lalu mengambil ponsel Selbi yang tergeletak di samping kepala gadis itu.

“Aku akan meminta Pria yang waktu itu menjemputmu,”

“Kau tidak bisa mengantarku?”

“Oh No,” Jari Chanyeol dengan cepat menemukan kontak Baekhyun yang Selbi namai ‘Cutie Jerk’ di phonebooknya dan segera meneleponnya. Chanyeol tentu saja tau nama itu karena Selbi menyimpannya dengan tidak ikhlas saat dirinya sedang menjemput Selbi di rumahnya, “Kau tau aku sangat sibuk di akhir pekan– Oh yeoboseyo? Ne, Byun Baek– oh, eerr… Bisakah Kau menjemput Selbi di bar? Dia sedang sekarat..”
Selbi pun terduduk dari posisi meringkuknya. Merasakan sekujur tubuhnya begitu ngilu entah karena apa. Kepalanya pun terasa sangat pusing. Semalam saat Luhan dijemput oleh temannya karena Chanyeol tidak mengijinkan Luhan mengemudi karena takut masih dipengaruhi alkohol, Selbi seperti kehilangan tujuan hidup. Tidak ingin kembali ke hotel, namun juga tidak ingin pulang ke rumah. Perasaannya seperti sakit. Semakin dia berpikir kalau mempercayai Luhan adalah hal yang benar, rasanya semua itu semakin terlihat salah di hatinya. ‘Nayeon bukan siapa – siapa,’ terus terngiang di pikiran Selbi semalaman. Ingin mempercayai Luhan tapi dia tidak bisa mempercayainya. Dan kenapa dia sebegitu kalutnya memikirkan omongan Luhan tentang Nayeon?

Yeah, sepertinya Selbi sudah sangat ingin mengetahui tentang apa yang ada pada Luhan. Dan itu membuatnya ingin terus melihatnya– terlepas dari Luhan yang sedang mabuk tentunya.

“Ya, makanlah ini. Aku lupa tidak membawakanmu sarapan tadi,” Chanyeol melemparkan sebuah chocolate bar dari saku coatnya lalu terduduk lagi di sofa, “Kau sangat kacau, Selbi-ya..”

Selbi tidak merespon melainkan sedang membuka coklat yang Chanyeol berikan kepadanya. Apakah dia terlihat sangat kacau? Karena Luhan? Oh tidak, baru kali ini dia merasakan yang seperti ini terhadap seorang Pria.

“Biasanya Kau selalu berhasil mendapatkan Pria yang Kau sukai huh?”

“Chanyeol-ah..”

“Hm? Katakan..” Chanyeol merunduk dengan menumpu dagunya menggunakan siku yang bertumpu di meja, menatap Selbi serius dengan mata bulatnya yang sangat menawan penuh perhatian (aaawww😫)

“Aku tidak yakin aku menyukainya atau tidak, hanya saja… aku–”

“Selalu penasaran dengannya? Selalu memikirkannya? Selalu ingin tau tentangnya?”

“Kau– tau?”

Chanyeol menggelengkan kepalanya, “Aku hanya menebak. Akhir – akhir ini Kau sangat aneh.. biasanya Kau akan seperti itu jika sedang menyukai seseorang,”

“Ah.. molla. Kali ini sepertinya tidak akan berhasil..”

Wae?”

Selbi menghela nafasnya pelan, dan mereka pun hanya saling tatap di detik – detik setelahnya. Gadis itupun tidak tau kenapa rasanya Luhan adalah Pria yang sulit ia gapai. Dia takut, Luhan akan mundur sebelum dia menyatakan perasaannya. Bukankah kebanyakan Pria sangat risih jika ada seorang gadis yang seperti mengejar – ngejarnya terus?

Tapi dia tidak bisa jika tidak memperhatikan lalu pada akhirnya ingin mencampuri urusan Luhan. Bagaimana ini?

“Sepertinya memang tidak akan berhasil,” Chanyeol lalu berdiri dari posisinya secara tiba – tiba. Melebarkan kaki panjangnya hanya sekali langkah, lalu menjulurkan tangannya untuk menepuk bahu Selbi, “Ya, biasanya sungguh Kau tidak seperti ini eoh, Kau bisa saja mencari pria lain yang Kau sukai, Selbi–”
Ddrrttttt drrrtttt

 

Ponsel Selbi bergetar di atas meja, membuat Chanyeol yang masih menunduk langsung menyambar ponsel dengan bertuliskan “Cutie jerk calling..” di layarnya lalu menolak panggilan itu. Sepertinya Baekhyun sudah sampai tapi tidak paham dengan ruangannya. Chanyeol pun berjalan ke luar lalu segera bersiul pada Baekhyun yang tengah berdiri di lantai bawah dengan menatap layar ponselnya sendiri.

“Dia disini..” Kata Chanyeol setelah Baekhyun mendongak karena siulannya tadi. Dan Pria jangkung itu pun sedikit takjub dengan penampilan Pria imut itu. Ternyata saat memakai jas rapi dengan rambut sedikit berantakan membuatnya tidak terlihat seperti anak ingusan yang polos.

“Apakah dia mabuk – mabukan semalam?”

 

+ Innocent Lust 8 +

 

“Bersiaplah menghadap ketua jurusan dan persiapkan juga alasan yang tepat kenapa Kau kabur dari acara semalam,” Baekhyun berkata sembari menguliti Ubi kukus yang ia beli di pinggir jalan saat akan menuju halte bus, di sampingnya Selbi seperti melamun. Dia mendengar suara Baekhyun tapi tidak ingin meresponnya karena tiba – tiba saja dia menyesal telah meninggalkan hotel demi sesuatu yang membuatnya patah hati, “Kenapa Kau meninggalkan hotel huh?” Baekhyun bertanya lagi lalu menarik lengan Selbi saat Bus yang akan mereka tumpangi berhenti di halte. Setelah mendudukkan Selbi di tempat duduk yang hanya tersisa 1 saja, Baekhyun yang berdiri di samping Selbi pun menyerahkan Ubi yang sudah selesai ia kupas dan bertanya lagi, “Kau pergi sendirian? Apakah Kau sudah gila?”

“Ssttt,”

Selbi mendongak menatap Baekhyun dengan memukul pinggul Pria itu dengan geram, seharusnya Chanyeol tidak perlu menyuruh Baekhyun menjemputnya. Karena sungguh dia sangat ingin sendirian sekarang.

“Baiklah baiklah, katakan saja alasanmu besok toh aku juga mendapat teguran,”

Cham..” Selbi berdecih lalu memakan sedikit – sedikit Ubi yang Baekhyun berikan karena masih mengepul panas, “Tidak diragukan lagi, Kau memang sudah berbakat untuk membuat masalah bahkan disaat semua dosen dan senior ada disekitarmu,”
Baekhyun kemudian mendorong Selbi saat orang yang duduk bersebelahan dengan gadis itu berdiri dan keluar dari bus. Dia terduduk, lalu sedikit mencimit camilan Selbi dan memakannya karena dia kelaparan. Setelah briefing panjang di hotel sejak subuh tadi, Baekhyun sempat menemui Nayeon lagi dan membawanya ke food court untuk sarapan. Tapi seorang Pria malah meneleponnya dan menyuruhnya menjemput Selbi di bar, “Setidaknya aku tidak keluar ke bar sepertimu,” Cerca Baekhyun menyenggol Selbi menggunakan sikunya dengan keras sampai membuat gadis itu reflek mencubit paha Baekhyun.

“Baiklah, aku menyesal oke? Jadi sebaiknya Kau menutup mulutmu sebelum aku yang menutupnya!”

“Oooooowww~ dengan bibirmu?!” Pria itu menonyor – nonyor sebelah pipi Selbi menggunakan sikunya dengan wajah ceria bercampur tidak berdosa yang sangat membuat Selbi gemas.

“Ishhh dasar otak mesum!”

“Kau yang mengajariku hal seperti itu,” Baekhyun masih mempertahankan cengirannya lalu merasa Selbi sepertinya sedang tidak mood meladeni candaannya, dia pun bertanya untuk yang terakhir kalinya sebelum Gadis itu mengumpatinya di muka umum, “Apakah seseorang Pria mengajakmu keluar dan Kau menyesal karena dia membawamu ke bar??”

Selbi langsung mendengus keras, sepertinya pikiran Baekhyun hanya diisi dengan hal – hal buruk tentang dirinya, “Dengar ya Byun Baekhyun-ssi–”

“Eo.. Apakah kakak kelas itu yang mengajakmu semalam?”

Mwo?”

“Karena Kau selalu mengejar – ngejarnya bukan?”

“Oh? Baguslah kalau Kau sudah tau!”

“Ya, sepertinya dia bukan pria baik – baik, menjauhlah darinya..” Raut wajah Baekhyun sedikit berubah dan akhirnya Selbi pun menoleh kepadanya dengan pandangan tak percaya. Tak percaya pada Baekhyun yang berkata sembarangan tentang Luhan. Dia sadar, dia juga belum mengenal Luhan dengan baik tapi hati Selbi mengatakan bahaa Pria itu adalah Pria yang baik. Walaupun Pria itu sudah mengatakan kepadanya soal pembunuhan– yang entah apa yang dimaksud Pria itu Selbi tidak mengerti tapi yang jelas dia tau Luhan adalah Pria yang baik.

“Sepertinya Kau tidak berhak menilai orang yang bahkan tidak Kau kenal sama sekali, Byun Baekhyun!?”

Baekhyun mengedikkan bahunya acuh, “Dia yang sudah menyakiti Nayeon,”

“Apa– Kau bilang?”

“Luhan– Pria itu yang membuat Jung Nayeon seperti itu–”

 

 

.

 

 

To Be Continued

 

Advertisements

Author:

My world become so bright because of your Light Moves~

25 thoughts on “Innocent Lust Chapter 8

  1. Semoga chapter selanjutnya banyakan momenn baek sama selbi…
    Entah endingnya bakanlan kaya apa… tapi aku ttp berharap baek sama selbi…

    Next chapter ditunggu ya thor… fighting 🤗🤗🤗

    Like

  2. Iya, nih… Momen BaekBi nyaaa dibanyakin dong, kak.. Bolehlah beha sukanya sama Nayeon, tapi kan BaekBi tetanggaan tuh, jadi kalau momen mereka dibanyakin kan masuk akal juga.. #cumaIde

    Semangat buat chapt selanjutnya yaaaa!!! 😎

    Like

  3. Akhirnya update…taw aq yg telat baca
    Rasanya nayeon m luhan emg hrus cari jln masing” z…masa lalu mereka ngenes bgt ampunn ksian nayeon nya luhan jg sih but cwe slalu lbih bnyk drugikan

    Like

  4. Hhooreeyy akhirnya update
    Udah nungguin lama bgt pengen cepet liat chap yg ini.
    Dan skarang pas chap yg ini udah keluar dan aku baca eh akhirnya bikin penasaran bgt. aku pengen liat lanjutannya bagus bgt ini lanjut dong kak lanjut lanjut TOP bgt deh

    Si baek tmbah imut aja kelakuannya jadi gemeszz bacanya wkwk.
    Trus si selbi bikin penasaran bgt, dia pnasaran sama luhan tapi di godain terus sama si baek. Aku penasaran selbi hatinya bakal goyah gk iy klo’ di godain gitu trus sama si baek wkwk.

    Top kak di tunggu lanjutan ceritanya. semangat terus…

    Like

  5. Akhirnyaaaaaaaa…lama banget nunggunya
    Semangat ngerjain ffnya kaka😊
    Aku salfok sama chanyeol masaaa😀😀😀langsung ngebayangin gimana imutnya dia😍
    Ngga sabar nunggu kelanjutannya😀

    Like

  6. “Chanyeol merunduk dengan menumpu dagunya menggunakan siku yang bertumpu di meja, menatap Selbi serius dengan mata bulatnya yang sangat menawan penuh perhatian” fix i need oxygen…

    “saat memakai jas rapi dengan rambut sedikit berantakan”oke fix aing mimisan(ketika cimol menjadi vangsat)

    Liked by 1 person

  7. Nggak kuat sama luhan-nayeon!!! sediiiiihhhh :((((((((
    hmmm selbi juga kesian sebenernya, berasa sendirian di dunia ini, hanya park chanyeol seorang yang peduli ama dia, tapi hamdalah baekhyun ada lagiii yeeeee, banyakin momen BaekBi nya yaa.. Jebal hehehe

    Liked by 1 person

tinggalkan jejak PLEASE!!!!! >-o

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s