Posted in Angst, Chaptered, Family, Marriage life, Nc 21, Romance, Sad

Bitter Sweet Chapter 14

bs14

Author : lightmover0488
Cast : Byun Baekhyun, Kim Kai, Kim Yeorin, Byun Seulbi
Genre : NC21, Romance, Marriage life, Angts
Disclaimer : Hanya Fiktif belaka. Jangan dianggap serius dan dilarang mencuri ide cerita.
DONT BE SILENT RIDERS.
Prev play On Me . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9 . 10 . 11 . 12 . 13

=Bitter Sweet 14=

Happy Reading~

.
“Aku hanya akan memberitahukanmu, bahwa jika itu adalah Anak Baekhyun—“
“Apakah kau akan mengambilnya?”
“Bukan aku,” Yifan nampak sedikit membuang nafasnya, wajahnya berubah frustasi. Selama ini, sejak Byun Jungsoo memerintahkannya untuk mengambil Bayi Yeorin—walaupun itu belum tentu anak Baekhyun, Yifan terus saja memikirkan hal ini. Walaupun dia termasuk anggota mafia di korea, tapi mengambil paksa bayi yang baru lahir dari Ibunya itu bukanlah style nya sekali, “Ayah Baekhyun menyuruhku,”
“Tapi dia belum tentu anak Baekhyun—“
“Aku mengharapkan itu. Semoga dia anak Kai, tapi tetap saja aku harus melakukan tes DNA padanya,”
Mata Yeorin sontak berkaca – kaca, kenapa rasanya Anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Baekhyun? Dan hatinya sungguh sangat sesak mendadak, bagaimana dia hidup tanpa Bayinya nanti?
“Berdoalah, aku hanya menjalankan tugasku,” Kata Yifan kemudian saat Yeorin hanya menangis sambil menatapnya, entah kenapa Yifan tidak ingin melihatnya. Tanpa Yeorin menjawab lagi, dia pun beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Wanita hamil yang sekarang berjalan pelan dengan pandangan kosong, kakinya seperti tidak bertulang mendengar Yifan mengatakan semua itu padanya.
Dia harus memikirkan lagi agar Bayinya tidak bisa mereka ambil begitu saja, walaupun ini anak Baekhyun sekalipun.

“Yeorin-ah..hh” Kai bernafas lega saat dirinya menemukan Yeorin sedang duduk di dalam katedral, masih dengan memburu nafas pasca berlarian mencari Yeorin  Kai pun berjalan gontai ke arah Yeorin yang merunduk tak bergeming. Kai sempat berfikir kenapa dia tiba – tiba berada disini?
Setelah Kai sudah berada tepat di samping Yeorin, barulah dia terperangah karena Yeorin sedang menautkan kedua jari – jarinya di depan dadanya—seperti berdoa. Matanya terpejam dengan kepalanya sedikit merunduk sangat damai. Kai pun ikut duduk di sebrang bangku Yeorin kemudian memperhatikan Istri sahnya tersebut dengan berbagai pemikiran.
“Sudah selesai?”
Yeorin menoleh pada Kai dengan wajah masih terpancar kesedihan disana, Kai tentu saja tau itu dan sedetik kemudian saat ia akan bertanya ada apa, Yeorin kemudian tersenyum padanya.
“Ayo kita pulang. Maafkan aku, kau pasti mencariku tadi,” Yeorin berdiri dengan dibantu Kai
“Kenapa kau kemari?”
“Berdoa,”
“Doa apa yang kau panjatkan sampai menangis seperti itu?”
“Doa untuk Bayiku..”

 

-Bitter Sweet-

Kai terus saja melirik Yeorin yang sedang berbaring miring tak bergeming di atas tempat tidur. Setelah membersihkan diri.. ah, tidak—Setelah Kai menemukan Yeorin sedang berdoa di dalam katedral tadi, tingkah Yeorin sungguh aneh. Jika Kai bertanya sesuatu, Yeorin akan menjawabnya dengan hanya mengangguk dan menggeleng atau hanya menjawabnya tak lebih dari 5 kata. Ya ampun, Kai pikir dia hanya meninggalkan Yeorin hanya beberapa menit saja, kenapa Yeorin menjadi berubah aneh seperti itu? Bahkan dia sampai bingung mengajak Yeorin berbicara sejak tadi.
Kai yang akhirnya gagal fokus terhadap pekerjaannya pun lebih memilih memperhatikan Yeorin yang sudah memakai piyama bergambar rilakuma yang sama persis dengan miliknya yang sedang ia kenakan juga. Seharusnya di malam pertama pernikahan mereka, Kai mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Tapi nyatanya hanya seperti ini? Aigo, Kai pikir ini adalah karmanya karena terlalu sering menyetubuhi Yeorin sebelum menikah dulu. Kai menyesal.
“Yeorin-ah..”
“Ng?”
Yeorin sama sekali tidak menoleh pada Kai.
“Apakah terjadi sesuatu saat aku pergi?” Kai memilih berjalan menuju tempat tidur kemudian duduk di pinggiran ranjang
“Tidak ada..” Yeorin masih tidak ingin memberitahukan Kai tentang ini. Rasanya sangat sulit mengatakannya sekarang. Pikirannya masih sangat rumit, begitu kerasnya ia berpikir agar Ayah Baekhyun tidak menyentuh anaknya kelak.
“Ceritakan padaku,” Kai menarik lengan Yeorin sampai wanita itu terduduk menghadapnya.
“Tidak ada,” Yeorin malah menunduk, kepalanya menjadi sangat berat setelah perkataan Yifan tadi.
“Baiklah..” Kai lebih baik tidak mengoreknya lebih jauh, suatu saat nanti pasti Yeorin akan bercerita sendiri padanya, “Aku hanya tidak mau kau banyak pikiran,”
Yeorin mengangguk kemudian menengadah menatap Kai dengan sangat lekat kemudian memeluknya erat, “Kai-ah, bagaimana jika.. ini hanya pengandaian. Bagaimana jika Bayiku nantinya tidak terlahir ke dunia?”
“Ng? Apa maksudmu?”
“Bagaimana jika Bayi ini tidak bersama kita nantinya?”
“Ya—“
“Aku ingin kau menjawabnya sekarang,” Nada suara Yeorin penuh dengan penekanan, tiba – tiba saja air matanya sudah menganak sungai tanpa ia sadari, semakin memeluk Kai sangat erat menahan isakan.
“Aku.. ingin hidup bersama dengan Bayi itu..” Kai sungguh tidak mengerti kenapa Yeorin tiba – tiba menjadi seperti ini, mulutnya bekerja dengan sendirinya saat mengatakannya.
Aniya.. ini—hanya pengandaian.”
Chakaman—“ Kai melepaskan pelukannya karena merasakan sesuatu, tapi Yeorin tidak mau melepaskannya, “Yeorin-ah..”
Dan Kai benar, suara isakan Yeorin pun terdengar di telinganya beberapa menit kemudian. Kai tambah bingung, kenapa Yeorin tiba – tiba menangis dengan memaksanya menjawab pertanyaan sangat anehnya itu?
“Baiklah.. aku akan menjawabnya,”
Yeorin masih sesegukan, air matanya sudah membasahi piyama Kai.
“Jika Bayi itu terpaksanya tidak bisa terlahir..  maksudmu meninggal?” Saking bingungnya Kai bertanya tanpa berpikir, “Ng… Kita, bisa membuatnya lagi—“ Lanjutnya menggantung, berbagai pemikiran menghinggapi pikiran Kai. Entahlah, tapi sesungguhnya yang ia inginkan sekarang adalah hidup bahagia bersama Yeorin dengan adanya bayi itu atau tidak.
“Bukankah kau ingin mempunyai Anak yang sah dariku?” tanya Kai yang akhirnya lega karena Yeorin barusan mengangguk. Dia akan berusaha keras agar Yeorin bisa mencintainya.. Ani—Kai tidak ingin memaksakan perasaan orang lain, Kai hanya berharap yeorin tetap saja berada di sampingnya dalam waktu yang sangat lama.
“Dan kau tidak perlu sedih jika Bayi itu tidak bisa bertahan. Jika Tuhan memang mengambilnya, kita hanya perlu mendoakanya agar Tuhan bisa selalu menjaganya disana,”
Yeorin lagi – lagi mengangguk, tidak menyangka Kai akan menganggap pengandaiannya sejauh itu. Tapi itu sama saja bukan, jika memang Baekhyun mengambilnya Yeorin tidak akan kuatir dengan Kai yang mungkin akan menyebabkan pertengakaran diantara dirinya dan keluarga Byun. Setidaknya Kai tidak akan mempermasalahkan Bayi itu kelak.
“Pasti sesuatu terjadi padamu saat aku tidak ada tadi,” Ujar Kai setelah hening agak lama saat suara isakan Yeorin sudah tidak lagi terdengar di telinganya. Pria itu kemudian melepaskan pelukan Yeorin karena pinggangnya sudah terasa pegal, “Hm? Kenapa kau diam saja?” Kai benar – benar gemas karena dia paling tidak suka orang yang diajak bicara terus saja terdiam membuatnya menjadi penasaran setengah mati.
“Aku.. tidak apa – apa,”
“Aku tidak percaya,”
Kemudian Yeorin menengadah menatap Kai, kedua tangannya lalu mencengkram kerah piyama Kai sekaligus mencium bibir suaminya. Dari pada dia harus menjelaskan hal yang membuatnya semakin pusing, Yeorin pun akan membuat Kai lupa dengan masalah ini. Dan benar saja, tangan Kai sekarang sudah ikut meraba – raba punggung Yeorin dan semakin melumat bibir istrinya sampai kepala Yeorin terdorong ke belakang.
“Kau menginginkannya?” Tanya Yeorin setelah melepaskan paksa ciuman yang ia awali sendiri, kemudian menggulingkan tubuh Kai agar berbaring, “Baiklah aku akan memberikannya malam ini,”
Kai yang senang sekaligus bingung dengan perubahan sikap Yeorin kemudian berkata, “Sepertinya kau sangat terpaksa melakukannya. Aku tidak mau,”
Yeorin yang sedang menduduki perut Kai ingin tertawa melihat suaminya memanyunkan bibir barusan, “Kau tidak mau? Baiklah aku akan memaksamu seperti kau memaksaku dulu,”
“Hah!?” Kai seperti salah mendengar penuturan Yeorin yang sekarang sedang melucuti celananya. Sepertinya Kai masih tidak mempercayai kenyataan ini. Apakah istrinya sedang dirasuki sesuatu atau apa? Tiba – tiba terlintas di pikirannya bahwa Yeorin sedang berusaha menjalani perannya sebagai seorang istri yang sedang dalam proses mencintai suaminya? Aigo, Betapa ironisnya hidup Kai.
“Yahh—“ Kai tersentak kaget dari lamunannya sendiri saat dia merasakan kedua tangan Yeorin mencengram kuat juniornya, “Yeorin-ahh..”
“Hm?”
Kai memejamkan matanya sambil mendesah kecil, kedua tangannya mengelusi kedua tangan Yeorin yang sekarang sedang tersenyum manis dan sedikit menjilat kepala juniornya seductive. Entah kenapa Yeorin merasa sedikit bersalah pada Kai karena tujuannya melakukan ini hanya untuk membuat Kai lupa dengan percakapan tentang masalahnya.
“Lain kali kau harus bercerita segalanya padaku,” Kata Kai sambil kenikmatan apalagi saat Yeorin mengangguk menanggapinya. Kemudian yang sungguh sangat di luar prediksi Kai adalah, kepala Yeorin lalu merunduk dan segera memasukkan juniornya ke dalam mulut lalu mengulumnya.
“Ahh.. Oh my—aahh,“ Kai memasang wajah penuh gairahnya, tidak menyadari bahwa Yeorin kini sedang melepaskan piyamanya sendiri. Setelah dia sudah bertelanjang sempurna yang memakan waktu sekitar 5 menit karena terhalang perut besarnya dan sibuk mengulum junior Kai, Yeorin pun akhirnya mendongak bebarengan dengan Kai yang menyemburkan spermanya. Kedua tangan Yeorin beralih mengocok Junior Kai yang semakin menegang sempurna.
“Aku tidak menyangka kau bisa melakukannya,”
“Sepertinya aku sudah belajar banyak darimu dan—Yeah, pokoknya aku akan membuatmu terbang malam ini,” Yeorin rasa dia sudah akan mengatakan ‘Baekhyun’ tadi. Dan sepertinya Kai tau hal itu karena wajah pria itu berubah datar dengan mata tajamnya yang sedang menatap Yeorin seakan berkata, ‘Kenapa kau masih saja membahas pria itu!’ padanya.
“Hehehe. Apakah kau siap?” Yeorin tertawa bersalah lalu memposisikan Vaginanya tepat di atas Junior Kai. Tangannya ia sangga di perut Kai yang sispack nya sangat sempurna dan menggoda kemudian memasukkan Vaginanya yang sebenarnya belum basah sama sekali.
“Ahh..” Yeorin mendesah pelan merasakan ngilu sekaligus nikmat dalam waktu bersamaan kemudian menjenjangkan lehernya membuat Kai ingin sekali mencumbuinya semalaman. Tangan pria itu tidak mau rugi, Kini Kai mengelusi pinggul, pinggang, kemudian menyusuri kedua tangan kurus Yeorin lalu memberhentikan pergerakannya di depan Gundukan Yeorin yang sudah ia sukai sejak pertama kali menyentuh Yeorin dulu.
“Mmhhhh—“ Yeorin semakin keenakan saat Kedua payudaranya di remas – remas oleh telapak tangan Kai yang begitu hangat ia rasakan membuat Yeorin lebih gencar menaik turunkan tubuhnya, tidak terlalu cepat karena perutnya ternyata begitu mengganggunya. Tersadar, Kedua tangan Kai berpindah memegangi pinggul Yeorin dan membantunya menaik turunkannya dengan sesekali meringis saat Juniornya seperti terjepit di dalam vagina Yeorin yang sedang orgasme.
“Kai—hh?”
“Ne?” Kai menanggapinya tidak sampai sedetik kemudian menatap Yeorin yang masih berwajah sangat Horny namun seperti menahan sesuatu.
“Sepertinya perutku kembali sakit—Aahhh.. yahh, Kai-yahh.. kau sudah mencapai puncakmu?” Yeorin semakin cepat menaik turunkan tubuhnya yang sudah klimis(?) karena keringat. Dan setelah ia merasakan Sperma Kai menyembur memenuhi Vaginanya, Yeorin pun terengah bukan menahan nikmat melainkan menahan mulas yang sedang ia alami. Tubuhnya menjadi tidak karuan, dengan kaki bergetar melepaskan kontaknya lalu terduduk di sela – sela kaki Kai sambil meringis mengelusi perutnya sendiri.
“Ya, Ya..” Kai baru kali ini memajang wajah super panik, dia ikut terduduk dengan teramat buru – buru lalu menyentuh perut Yeorin yang sedikit mengeras. Wajah Yeorin sampai memerah menahannya.
“Kau– tidak perlu melakukannya tadi—Sekarang istirahatlah.. atau kita ke dokter saja?” Suara Kai terbata – bata karena jantungnya masih memompa dengan cepat, matanya jelalatan di sekitar daerah kewanitaan Yeorin siapa tau ada yang keluar dari sana.
“Tidak mau,” Yeorin tiba – tiba saja merinding saat mendengar kata Rumah sakit. Otaknya selalu saja memikirkan bahwa rumah sakit adalah tempat yang sangat tidak aman untuk proses persalinannya. Bagaimana jika saat dokter berhasil mengelurkan bayinya, dia tidak akan melihatnya? Bagaimana jika Bayinya tidak sempat meminum air susu pertamanya? Bagaimana jika…
“Yeorin-ah,” Kai mendapati Yeorin melamun lagi sambil masih mengelus – elus perutnya, “Tidurlah,” Kai akhirnya menarik tubuh Yeorin sampai terbaring.
“Aku tidak akan menyuruhmu mencintaiku Yeorin-ah, jangan melakukan apapun hanya untuk menyenangkanku. Lakukanlah seperti biasanya,”
Aniya..” Yeorin memeluk Kai yang barusan ikut berbaring di sebelahnya, “Aku ingin membahagiakanmu seperti janji yang telah aku katakan,”
Kai merasa senang sekaligus sedih kemudian lebih memilih mengelusi surai indah Yeorin, “Baiklah. Pelan – pelan saja hm?”
Yeorin mengangguk kemudian memilih memejamkan matanya, kedua tangannya menangkup di depan dada dalam dekapan Kai yang super nyaman dan sepertinya akan membuatnya cepat tertidur.

 

-Bitter Sweet-

Setelah memindahkan mangkuk terakhir yang berisi sup abalon pedas kesukaan Kai, Yeorin melepaskan celemeknya. Tidak lama setelahnya terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga dan itu membuat Yeorin berjalan keluar dari area dapur.
“Kau sudah bangun? Ya.. apakah semalam piyama kita sama seperti ini? Kiyowoo..”
Kai langsung terkekeh di sambut Yeorin dengan tersenyum seperti itu lalu melingkari pinggangnya, “Kau tidak sadar?”
Yeorin menggeleng.
“Sepertinya ibuku yang membelikan piyama ini,”
Yeorin mengangguk kemudian teringat sesuatu, “Ibuku dan Ibumu sedang ke jeju..”
What? Untuk apa? Bukannya seharusnya kita yang berbulan madu kesana?” Kai duduk di salah satu kursi yang menghadap tepat di hadapan kursi Yeorin.
“Yaa.. bukankah semalam kita sudah berbulan madu di kamar,”
Kai meringis membayangkan kejadian tadi malam lalu bertanya, “Perutmu bagaimana?”
“Perutku baik,” Yeorin tersenyum lalu memberikan mangkuk berisi nasi pada Kai.
“Ah.. kau belum menciumku pagi ini,”
Yeorin nampak mendengus, “Aku akan memberimu nanti. Makanlah dulu,” Yeorin menyendokkan nasi yang memenuhi mangkuk Kai lalu ia sodorkan ke mulut Pria itu, “Hari ini jadwalku cek kehamilan,”
“Oke. Kita akan ke rumah sakit,”
“Bolehkan aku ikut ke kantormu?”
Kai mengerutkan kening sambil menyeruput sup buatan Yeorin yang luar biasa enak.
“Aku tidak ingin bosan di rumah. Bukankah Sehun dan Tao akan melakukan sesuatu hari ini?”
“Ah.. kau benar. Baiklah, tapi kau jangan melakukan apapun disana,”
Wae?!” Yeorin cemberut, sebenarnya tadi pagi dia sempat menyelesaikan pekerjaan kantor Kai yang sudah ia pelajari di kampus dulu. Namun Kai bersihkeras tidak mau ia melakukannya karena tidak ingin Yeorin kelelahan? Ya ampun, Kai benar – benar terlalu mencintai Yeorin secara berlebihan ternyata.
“Kau tidak mau aku kelelahan? Ya ampun, Aku–”
“Wah.. Kim Yeorin ternyata kau bisa memprotesku sekarang?”
Yeorin lantas mengatupkan mulutnya sambil menatap Kai tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum saat Kai tersenyum lebar padanya.
“Aku menyukai sifat aslimu. Bukankah kau pernah bilang bahwa kau yang sekarang berbeda dengan kau yang dulu?”
Yeorin mengangguk.
“Sekarang kau bebas menjadi dirimu sendiri di depanku, kau tidak lagi takut padaku bukan?”
Yeorin menggeleng sambil kembali tersenyum pada Kai.
“Aku mencintaimu,”
“…”

 

-Bitter Sweet-

Sore itu Baekhyun pulang lebih awal. Hari ini adalah kali keduanya Seulbi harus check up lagi ke rumah sakit setelah yang pertama dulu berjalan dengan lancar walaupun Seulbi harus menangis semalaman lantaran efek pengobatannya yang menyakitkan.
Namun sepertinya Seulbi terlihat sudah baik – baik saja sekarang. Wajahnya tidak lagi pucat dan tiap malam Seulbi tidak lagi mengigau karena sakit perut.
Baekhyun berjalan ke dalan apartemennya dengan masih berpakaian rapi. Matanya langsung tertuju pada Seulbi yang sedang berdiri memunggunginya di samping lemari televisi entah sedang melakukan apa.
“Luseul-ah! Ya, kau yang menyimpan kuncinya?!” Jujur saja  Baekhyun kaget saat matanya tidak sengaja melihat kotak yang terpendam dulu tergeletak di lantai dengan sudah terbuka lebar. Seulbi baru berbalik badan setelah selesai dengan kegiatannya lalu tersenyum pada Baekhyun, “Bukankah aku memang yang menyimpannya. Kau lupa?”
Baekhyun mengangguk, masih kehilangan kata – katanya. Kemudian memandangi isi kotak tersebut yang sudah Seulbi pindahkan ke dalam sebuah Kotak kaca cantik berukir yang bisa berputar. Di dalamnya, terdapat sepasang boneka teddy bear berwarna putih bersih lengkap dengan pakaian pengantin. Teddy bear dengan pita putih dikepalanya menggunakan gaun sementara teddy bear yang satunya memakai tuxedo hitam.
“Yaah.. tidak sia – sia kita menyimpannya di dalam kotak selama bertahun – tahun. Mereka masih sangat bersih,”
Ne..” Seulbi menjawab singkat kemudian berjalan menuju sofa, sebenarnya sangat tidak ingin ke rumah sakit.
“Kau sudah siap?” Baekhyun memegang tangan dingin Seulbi saat gadis itu melewatinya
Ne..” Seulbi mengangguk pelan tanpa menatap Baekhyun lalu berniat mengambil tas selempangnya di meja ruang tengah namun Baekhyun menarik sebelah tangannya sampai Seulbi mendongak menatap Baekhyun.
“Jika kau belum siap kita bisa kesana besok,”
Aniya,” Seulbi menatap dada Baekhyun lalu mendorong tubuh Suaminya agar pegangan pada bahunya terlepas.
“Ah aku lupa, apakah ayahmu memberitahumu sesuatu?” Tanya Seulbi pada Baekhyun kemudian menoleh ke belakang, “Tentang bayi yang ada di dalam kandungan Yeorin,”
Baekhyun nampak terkejut, “Apakah tua bangka itu memberitahu sesuatu padamu?!”
“Dia akan mengambil bayi itu– untukku,”
Baekhyun tambah kehilangan kata – katanya. Kenapa ayahnya masih terus mengusik hidup Yeorin dan bayinya?
“Luseul-ah, bayi itu belum tentu anakku..” Baekhyun berusaha bersabar. Dia lelah dengan kelakuan ayahnya sendiri.
“Aku tau,” Seulbi menatap Baekhyun nanar, awalnya Seulbi memang ingin sembuh dari penyakitnya tapi setelah menjalani pengobatan itu dan kata dokter harus dijalani sebanyak 4 kali lagi, Seulbi merasa semuanya sia – sia saja. Dia benar – benar takut tidak akan bisa mempunyai keturunan.
Dan seminggu lalu Ayah Baekhyun memberitahunya jika dia akan mengambil bayi Yeorin. Otak Seulbi tentu saja langsung bekerja pendek, dengan ego nya yang mendominasi dirinya. Jujur saja, Seulbi sangat senang akan hal itu, dia menginginkan seorang anak. Bahkan pernah terpikir diotaknya dia akan mengadopsi seorang bayi, namun Ayah Baekhyun seperti memberi peluang padanya. Dia sungguh menginginkan bayi Yeorin.
“Luseul-ah, ayolah. Kita sudah tidak ada hubunganya lagi dengan Yeorin. Aku akan bicara pada ayah,” Kata Baekhyun terdapat nada memohon disana, dia sungguh tidak mau memberi Yeorin penderitaan lagi karena Baekhyun mencintainya bukan? Kalian ingat kan? bukankah Baekhyun mengatakan jika perasaan sukanya pada Yeorin tidak bisa dia hapuskan begitu saja. Dan dia akan berusaha agar Yeorin mendapat kebahagiannya bersama dengan Bayinya kelak.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Seulbi terduduk di sofa dengan raut wajah yang berubah frustasi, membuat Baekhyun kemudian duduk di sampingnya.
“Bagaimanapun Bayi itu harus bersama dengan Yeorin, luseul. Walaupun itu anakku sekalipun. Yeorin–”
“Aku.. tidak bisa, baekhyun,”
“Kau tidak perlu mendengarkan ayah, kau pasti bisa memberinya seorang keturunan suatu saat nanti,” Baekhyun masih belum mau menyerah. Ayolah, jika diingat – ingat keluarganya–lebih tepatnya dirinya dan Byun Junsoo benar – benar sudah berlaku sangat kejam terhadap Yeorin. Apalagi Baekhyun, dengan perasaan suka nya yang baru – baru ini ia sadari. Dia sungguh memperlakukan Yeorin sangat semena – mena padahal itu semua benar – benar karena dia ingin memiliki Yeorin. Baekhyun sungguh menyesal dari hatinya yang terdalam.
Sementara Seulbi sekarang sudah tidak ingin mendengarkan omongan Baekhyun. Seulbi rasa satu – satunya yang Baekhyun maksudkan hanya untuk melindungi Yeorin.
“Mungkin Yeorin mau memberinya untukku,”
Aniya! Dia tidak akan memberikannya,”
“Baekhyun-ah, sebenarnya kau ini kenapa!?” Seulbi berdiri dengan mendecakkan lidah. Kenapa Baekhyun menjadi berubah sejak ia bertemu dengan Yeorin kemarin lusa?
“Aku tidak melihat dirimu yang dulu. Aku pikir kau tidak peduli dengan Yeorin apalagi dengan bayi yang sedang dikandungnya! Apakah sekarang kau sedang menebus dosamu padanya huh?!” Seulbi berteriak pada Baekhyun seraya memundurkan diri saat Baekhyun hendak mengatakan sesuatu.
“Aku tidak mau mendengarkanmu lagi,” Lalu Seulbi pergi dari hadapan Baekhyun sebelum pria itu sempat membuka mulutnya.

 

-Bitter Sweet-

“Berhubung kandungan Yeorin sudah terjadi masalah di awal, Kalian tidak boleh melakukan sesuatu yang merangsang kontraksinya,” Dr. Han Jae in, SpOG yang menangani Yeorin saat keguguran dulu berkata dengan tersenyum hangat pada Kai dan Yeorin, “Apakah kau sering kelelahan akhir – akhir ini?”
Kai lalu menoleh ke samping, tangannya masih saja menggenggam tangan Yeorin yang diletakan dipangkuannya.
Ne.. sepertinya aku banyak berjalan, dokter..”
Dr. Han mengangguk paham kemudian mencatat sesuatu di lembaran kertas kemudian mengambil kertas hitam bening hasil USG yang tergeletak di atas mesin USG, “Bayi kalian sudah memasuki pintu atas panggul. Jadi kau sering mengalami kontraksi. Namun disamping itu semua, keadaan bayinya sehat,”
Ne..” Kai menanggapi sambil menatap gambaran bayi yang tadi ia lihat di layar computer. Entah kenapa jantungnya sungguh bertalu – talu setiap diperdengarkan suara detakan jantung calon anaknya kelak dan baginya itu hal yang luar biasa. Rasanya Kai sudah tidak sabar ingin menggendongnya. Apalagi bayi itu berjenis kelamin laki – laki.
“Apakah bayi–kami bisa terlahir dalam waktu dekat?” Tanya Yeorin
“Jika kontraksinya terjadi terus – menerus, bisa saja mundur dari tanggal perkiraan,”
“Apakah itu baik?” Kali ini Kai menengahi
“Hm… tentu saja tidak. Bayi kalian masih 2.400 gram,”
Yeorin dan Kai lalu serempak berkata “ah,” kemudian hening beberapa saat. Terlarut dalam pikirannya masing – masing.
“Aku akan memberikan obat dan vitamin. Kau tidak boleh kelelahan dan,” Dr. Han beralih menatap Kai, “Jangan melakukan hubungan suami istri dalam waktu dekat ini kecuali umur kehamilan Yeorin sudah menginjak 9 bulan,”
Ne, aku mengerti dokter,” Kai mengangguk mantap dengan wajah malu sekaligus bersalah membuat Yeorin ingin tertawa, lihat saja sekarang wajah Kai berubah memerah membuat Yeorin mengusap pipi Kai saat Dr. Han sedang menunduk menuliskan sebuah resep.
Setelah dr. Han memberikan semua hasil USG, hasil check up dan resep obat Kai dan Yeorin ijin pamit untuk pulang–lebih tepatnya untuk kembali ke kantor Kai karena pekerjaan yang masih sangat menumpuk.
“Lihat kan. Kau tidak boleh kelelahan, aku akan mengantarkanmu pulang dan kau harus langsung istirahat..” Kai langsung mengoceh sesampainya mereka di depan ruangan dokter Han
“Aku berjanji akan duduk diam di kantormu,” Yeorin memamerkan telunjuk serta jari tengahnya ke wajah Kai tanda ia berjanji lalu berjinjit mengecup pipi Kai.
“Baiklah jika itu perjanjiannya,” Kai berdehem kemudian berkata seperti itu pada akhirnya lalu menggandeng tangan Yeorin menuju kantin, karena dia sangat lapar, “Ah, sebelum kita makan siang aku akan tebus resep nya dulu, kau tunggulah disana,”
“Oke..”
Namun sebelum kaki kai melangkah menjauhi Yeorin, dia terpikir sesuatu, “Ya.. lebih baik kau ikut denganku. Aku takut kau menjadi aneh seperti kemarin,”
“Kata dokter aku tidak boleh berjalan, aku akan duduk disana,”
“Ah.. kau benar..”
Kai kemudian berbalik badan lalu menghilang dari pandangan Yeorin.

 

-Bitter Sweet-

 

Yeorin menunggu Kai di sebuah bangku pasien di sudut departemen kanker yang agak sepi, di hadapannya terdapat sebuah taman yang langsung terhubungkan dengan departemen gangguan reproduksi yang banyak sekali orang – orang yang berlalu lalang. Sudah 10 menit berlalu dan Kai belum juga nampak batang hidungnya. Berniat akan mengirimi Kai pesan, Mata Yeorin tertuju pada kotak pesan yang sepertinya sudah lama tidak ia perdulikan sejak beberapa hari yang lalu.
Hanya beberapa pesan dari ibunya, Ibu Kai, Heeseul, Ibu Hyemi dan.. Nomor baru yang dikirimkan kemarin malam.
‘Yeorin-ah, selamat atas pernikahanmu. Maaf aku dan Seulbi tidak sempat menemuimu,’
Yeorin tertegun selama bermenit – menit membaca serentetan kata yang pastinya dari Baekhyun itu. Perasaannya jadi aneh, apakah Baekhyun benar – benar akan menjaga Seulbi dengan baik? Sementara perasaan suka padanya masih ada di dalam hati Baekhyun? Apakah pesan ini benar – benar darinya?
“Yeorin-ah…”
Yeorin yang sedang melamun sontak mendongak dengan kaget karena itu suara seorang perempuan bukanlah suara Kai.
“Kau sedang memeriksakan kandunganmu?”
“Se–seulbi-ya..”
Seulbi tersenyum singkat kemudian duduk di samping Yeorin kemudian bersedekap di depan dada, wajahnya sungguh sangat pucat.
“Seulbi-ya.. kau baik – baik saja?” Tanya Yeorin karena matanya tidak bisa lepas menatap wajah Seulbi yang sudah seperti mayat hidup.
“Tentu saja, jika aku menjawab ‘baik – baik saja’ itu akan terlihat sangat munafik,”
Yeorin lalu terdiam menatap lantai rumah sakit dengan tangan bertautan di atas pangkuannya. Dia masih merasa bersalah dengan kejadian tempo hari namun apa gunanya membahas masalah itu sekarang? Bukankah itu akan membuat Seulbi…
“Jadi kenapa kau bertemu Baekhyun waktu itu?”
Pertanyaan Seulbi barusan seperti tamparan keras untuk Yeorin. Wanita yang tengah hamil besar itu lalu berpikir dengan keras. Mengingat kembali kejadian yang sebenarnya tidak disengaja itu.
“Ak–aku, sungguh aku dan Baekhyun tid–tidak bertemu secara kebetulan, Seulbi-ya.. aku–”
“Apakah kau berkata sesuatu padanya? Baekhyun menjadi sangat perhatian padaku, itu membuatku merinding setiap waktu. Bagiku dia tidak menjadi dirinya sendiri. Kau yang membuatnya seperti itu?”
Seulbi masih menatap kedepan tanpa memperdulikan Yeorin yang sudah kehabisan kata – katanya. Perutnya mulas lagi.
“Aku hanya ingin dia bahagia denganmu,”
“Bagaimana dia bahagia denganku jika kau yang dia cintai? Lagipula aku tidak akan bisa membahagiakannya!”
“Seulbi-ya..”
“Apakah kau menyukai Baekhyun?”
“Kau sudah pernah bertanya padaku tentang itu,” Yeorin berusaha berbelit, dia tidak mau Seulbi tersakiti dengan perasaan sukanya pada Baekhyun. Yeorin bersyukur bahwa dia pernah mengatakan pada Seulbi bahwa dia membenci Baekhyun.
“Perasaanmu tidak berubah padanya?”
“Tentu saja tidak,” Yeorin tersenyum hambar tanpa sepengetahuan Seulbi, biarlah perasaan sukanya hanya diketahui dirinya dan Baekhyun saja. Lagipula itu adalah cinta yang semu. Hanya fatamorgana.
“Kau tau aku sudah menikah dengan Kai,” Lanjut Yeorin membuat Seulbi menoleh sedikit padanya. Lalu disaat Yeorin sedang menatap ke arah lain, sosok Baekhyun berjalan ke arah keduanya dengan gontai. Rambutnya sedikit berantakan dengan guratan kelelahan yang menghiasi wajahnya.
“Ya, kenapa kau kabur di tengah – tengah pemeriksaan huh! Dokter sudah menunggu di ruangan biasa,” Baekhyun langsung menarik lengan Seulbi membuat Yeorin ikut berdiri.
“Aku tidak mau, jebal.. rasanya aku ingin mati jika teringat rasa sakitnya,”
“Seulbi-ya, Jika kau tidak melakukannya sekarang, infeksinya akan menyebar sampai indung–”
“Aku.. tau!” Seulbi berseru bersamaan dengan bulir – bulir air matanya yang terjatuh deras ke pipi mulusnya. Seharusnya dia tidak berjalan ke sini tadi, saat hendak keluar dari ruang pemeriksaan dan berniat untuk pulang. Seulbi tidak sengaja melihat Yeorin terduduk disini, dan dia tidak tahan jika tidak bertanya tentang kejadian tempo lalu. Seulbi juga ingin mengatakan tentang bayi yeorin tapi sialnya Baekhyun sudah menemukannya bahkan sebelum dia menyinggung masalah itu.
Yeorin merunduk, sedangkan mata Baekhyun tidak bisa jika tidak menatap wajah Yeorin lalu turun ke arah perut besarnya. Entah mengapa Baekhyun begitu menyesal dengan apa yang telah terjadi di hidup Yeorin. Masalahnya sekarang terletak pada bayi yang ada di dalam kandungan Yeorin, bagaimanapun dia harus menghentikan aksi ayahnya agar tidak mengambil begitu saja bayi itu. Baekhyun sendiri sudah memutuskan tidak akan mengambilnya meskipun bayi itu adalah darah dagingnya sendiri, sekarang Baekhyun lebih mementingkan kebahagiaan Yeorin. Jika gadis yang ia cintai itu bisa hidup bahagia dengan Bayi itu, Baekhyun akan membiarkannya seperti itu–Demi kebahagiaan Yeorin…

.

Kemudian setelah beberapa detik berlalu tanpa ketiganya berkata – kata, tangan Baekhyun menggenggam pergelangan tangan Seulbi lalu menariknya menjauhi Yeorin tanpa menoleh lagi.
Yeorin rasa, dia ingin menangis sebentar lagi setelah melihat keadaan Seulbi. Mungkinkah ayah Baekhyun ingin mengambil bayinya untuk Seulbi?
Tapi bagaimana jika itu bukan Bayi Baekhyun? Apakah Byun jungsoo akan tetap mengambilnya? Yeorin rasa dia tidak akan pernah memberikan bayi itu jika ternyata dia adalah darah daging Kai.
“Kenapa kau berdiri?”
Yeorin menoleh ke samping saat mendengar suara Kai menyapa telinganya.
“Apakah sesuatu terjadi lagi saat aku tidak ada?”
“Aku bertemu Seulbi,”
“Lalu, apa yang dia–”
“Kai bagaimana jika aku memberikan bayiku untuk Seulbi?”

 

 

To Be Continued…

Bagi yang bilang ff ini kebanyakan konflik harap bersabar sampe akhir. Ini udah mau tamat juga, kaga usah protes2. Mian, postingnya aga telat, biasa lg minim inspirasi. semoga lanjutannya tetep selalu ditungguin. buat ff lain harap bersabar juga, mau nyelesein bitter sweet dulu baru lari(?) ke yang lainnya. Terimakasih atas perhatian kalian dan yang udah cape2 komenin ff ini.

Salam hangat, istrinya sibeha..

Advertisements

Author:

My world become so bright because of your Light Moves~

199 thoughts on “Bitter Sweet Chapter 14

  1. Kok seulbi jadi ada niatan jahat gitu… ayah baek juga niat bgt mau ngambil bayi yeorin… kasian kan kalo yeorin sampai kehilangan baayinya… berharap yeorin bahagia entah siapapun pasangannya

    Like

  2. Gw ga paham sama perasaan yeorin. Dia tuh sama plin plannya kaya baekhyun. Kl kt gw sih mending lupain aja baekhyun toh juga dia bahagia waktu sama kai. Ini ff bener” nguras emosi 😦

    Like

  3. Andwae, please yeorin itu anak mu ..
    jgn kasih ke seulbi 😂 ku harap anak.a kai
    kai mah gitu datang.a terlambat selalu melewatkan kejadian” penting
    yeorin.a juga gak mau cerita dg kai
    tapi untung.a yeorin sedikit perhatian dg kai walaupun tidak mencintai nya
    next chap 😀

    Like

tinggalkan jejak PLEASE!!!!! >-o

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s